Refleksi
1 week ago
Dok:
IlustrasiPernah tidak, kamu merasa sangat sayang pada suatu barang? Mungkin boneka kesayangan, sepeda hadiah ulang tahun, atau mainan yang sudah lama sekali kamu inginkan.
Lalu bayangkan suatu hari ketika kamu pulang sekolah, ibu bilang:
“Boneka yang ada di kamarmu tadi sudah ibu berikan kepada anak kecil yang lewat. Dia kasihan sekali, jadi ibu kasih.”
Padahal boneka itu adalah hadiah ulang tahun yang sudah kamu tunggu sejak tahun sebelumnya.
Atau mungkin, ketika kamu baru aja bangun tidur, ayah bilang:
“Sepeda mu sudah ayah kasih ke sepupu. Kamu sudah bisa naik sepeda kan sekarang? Dia belum bisa dan perlu buat ke sekolah.”
Padahal itu adalah sepeda yang kamu beli dari uang lebaran yang kamu kumpulkan.
Kira-kira, bagaimana perasaanmu?
Sedih? Kecewa? Atau bahkan marah?
Perasaan itu wajar sekali. Ketika kita sangat menyayangi sesuatu, rasanya memang tidak mudah jika harus kehilangan atau memberikannya kepada orang lain. Nah, perasaan seperti itulah yang mungkin bisa membantu kita sedikit memahami kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail saat Idul Adha.
Ujian Berat Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim sudah sangat lama menunggu kehadiran seorang anak. Setelah bertahun-tahun berdoa, akhirnya Allah memberinya seorang putra bernama Nabi Ismail. Tentu Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya. Ismail bukan hanya anak yang ditunggu-tunggu, tetapi juga anak yang saleh dan membanggakan. Namun suatu hari, Allah memberikan ujian yang sangat berat. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan Nabi Ismail.
Bayangkan betapa sedih dan beratnya perasaan Nabi Ibrahim saat itu. Anak yang selama ini begitu dicintai justru harus rela ia lepaskan karena perintah Allah. Tetapi hebatnya, Nabi Ibrahim tetap taat. Nabi Ismail pun juga ikhlas dan percaya kepada Allah. Karena ketaatan dan keikhlasan mereka, Allah akhirnya mengganti Nabi Ismail dengan seekor hewan kurban. Dari situlah kemudian umat Islam mengenal ibadah kurban yang dilakukan setiap Hari Raya Idul Adha.
Idul Adha Bukan Hanya Tentang Menyembelih Hewan
Saat mendengar kata kurban, banyak orang langsung membayangkan sapi atau kambing. Padahal, makna kurban sebenarnya jauh lebih dalam dari itu. Kurban mengajarkan kita untuk belajar ikhlas dan tidak terlalu melekat pada apa yang kita miliki. Sebab semua yang ada di dunia ini sebenarnya adalah titipan dari Allah. Mainan, sepeda, uang, bahkan orang-orang yang kita sayangi sekalipun, semuanya adalah pemberian Allah. Artinya, ketika suatu saat Allah mengambilnya kembali, kita harus belajar menerima dan percaya bahwa Allah punya rencana terbaik.
Belajar Berbagi Sejak Kecil
Kisah Nabi Ibrahim juga mengajarkan bahwa berbagi adalah bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Di sekolah Islam yang ramah anak, anak-anak tidak hanya belajar pelajaran di kelas, tetapi juga belajar peduli kepada orang lain. Berbagi tidak harus menunggu punya banyak. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil, seperti berbagi makanan dengan teman, meminjamkan alat tulis,
membantu teman yang kesulitan, atau menyisihkan uang jajan untuk bersedekah. Hal-hal sederhana seperti itu melatih hati agar tidak terlalu egois dan lebih mudah peduli kepada sesama.
Pada Idul Adha tahun ini, ada hal yang membanggakan sekaligus mengharukan. Selama kurang lebih satu bulan terakhir, siswa-siswi SD dan SMP bersama-sama menyisihkan sebagian uang mereka melalui program infak sekolah. Sedikit demi sedikit, infak yang terkumpul akhirnya cukup untuk membeli seekor sapi. Sapi tersebut kemudian disembelih dalam kegiatan pemotongan hewan kurban yang dilaksanakan di sekolah pada tanggal 28 Mei 2026. Dagingnya dibagikan kepada warga di sekitar sekolah agar lebih banyak orang dapat merasakan kebahagiaan Idul Adha.
Memang, secara syariat Islam, infak yang dikumpulkan bersama-sama seperti ini tidak dapat menggantikan ibadah kurban yang memiliki ketentuan dan aturan tersendiri. Namun, bukan berarti usaha dan niat baik para siswa tidak bernilai di hadapan Allah. Justru dari kegiatan ini, para siswa belajar banyak hal yang menjadi inti dari Idul Adha: belajar berbagi, peduli kepada sesama, menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu orang lain, dan bekerja sama untuk mewujudkan kebaikan.
Allah Maha Mengetahui setiap niat baik dan setiap kebaikan yang dilakukan hamba-Nya, sekecil apa pun itu. Mungkin nilai terbesar dari kegiatan ini bukan terletak pada seekor sapi yang berhasil dibeli, melainkan pada hati anak-anak yang sedang dilatih untuk menjadi pribadi yang dermawan, peduli, dan ikhlas berbagi kepada sesama. Karena itulah, setiap rupiah yang disisihkan, setiap niat baik yang ditumbuhkan, dan setiap senyum yang tercipta saat berbagi adalah bagian dari pelajaran berharga yang akan terus mereka bawa hingga dewasa nanti.
Belajar Ikhlas dari Hal-Hal Kecil
Memang tidak mudah untuk melepaskan sesuatu yang kita sayangi. Bahkan orang dewasa pun kadang masih merasa sedih ketika kehilangan sesuatu. Tetapi melalui Idul Adha, kita belajar bahwa keikhlasan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Belajar berbagi mainan. Belajar membantu teman. Belajar memberi tanpa berharap balasan. Karena pada akhirnya, kurban bukan hanya tentang hewan yang disembelih, tetapi tentang hati yang belajar taat, ikhlas, dan peduli kepada orang lain. Dan mungkin, itulah salah satu pelajaran terpenting dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.